BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Tubuh membutuhkan jumlah yang berbeda untuk setiap vitamin. Setiap orang punya kebutuhan vitamin yang berbeda. Anak-anak, orang tua, orang yang menderita penyakit atau wanita hamil membutuhkan jumlah yang lebih tinggi akan beberapa vitamin dalam makanan mereka sehari-hari.(1)
Vitamin termasuk kelompok zat pengatur pertumbuhan dalam pemeliharaan kehidupan. Tiap vitamin mempunyai tugas spesifik di dalam tubuh. Karena vitamin adalah zat organic maka vitamin dapat rusak karena penyimpanan dan pengolahan.(1)
Vitamin merupakan nutrisi tanpa kalori yang penting dan dibutuhkan untuk metabolisme tubuh manusia. Vitamin tidak dapat diproduksi oleh tubuh manusia, tetapi diperoleh dari makanan sehari-hari. Fungsi khusus vitamin adalah sebagai kofaktor (elemen pembantu) untuk reaksi enzimatik. Vitamin juga berperan dalam berbagai macam fungsi tubuh lainnya, termasuk regenerasi kulit, penglihatan, sistem susunan syaraf dan sistem kekebalan tubuh dan pembekuan darah.(1)
Lama tidak diketahuinya mengenai vitamin karena bahan-bahan makanan mengandung vitamin yang cukup untuk mencegah timbulnya gangguan yang hebat terhadap kesehatan. Bahan makanan yang disajikan oleh alam mengandung berbagai vitamin dan bila dimakan secara bersama-sama akan saling melengkapi satu sama lain. Oleh karena itu konsumsi jenis bahan makanan yang monoton dalam waktu lama dapat menimbulkan terjadinya kekurangan vitamin.(2)
Gejala defisiensi bervariasi dari tingkat masalah kecil, seperti sakit kepala, masalah-masalah kulit atau hilangnya nafsu makan sampai penyakit–penyakit yang serius misalnya beri-beri yang disebabkan oleh kekurangan vitamin B atau kudisan yang disebabkan oleh kekurangan vitamin C dalam jangka waktu yang panjang. Namun demikian, konsumsi vitamin yang hampir sampai pada tahap optimum juga terjadi pada beberapa bagian grup populasi.(2)
Melihat pentingnya dan peranan vitamin dalam tubuh manusia maka dilakukan percobaan ini untuk mengetahui sifat-sifat vitamin.
I.2 Tujuan Percobaan
A. Tujuan umum :
1. Mempelajari sifat-sifat vitamin.
2. Membuktikan adanya vitamin dalam suatu bahan secara kualitatif.
B. Tujuan khusus :
1. Penentuan adanya vitamin A
Untuk membuktikan adanya vitamin A dalam suatu bahan secara kualitatif.
2. Penentuan adanya vitamin D
Untuk membuktikan adanya vitamin D dalam suatu bahan secara kualitatif.
3. Penentuan adanya vitamin B1
Untuk membuktikan adanya vitamin B1 secara kualitatif.
4. Penentuan adanya vitamin B6
Untuk membuktikan adanya vitamin B6 secara kualitatif.
5. Penentuan adanya vitamin C
Untuk mrmbuktikan adanya vitamin C secara kualitatif.
I. 3 Prinsip Percobaan
1. Penentuan vitamin A
Percobaan ini dilakukan untuk membuktikan adanya vitamin A dalam suatu bahan yang dapat dilakukan denga 2 metode yaitu dengan pereaksi Carr-Price atau pereaksi Trikloroasetat (TCA). Vitamin A dengan pereaksi Carr-Price akan memberikan warna biru, kemudian berubah menjadi merah coklat. Intensitas warna biru sebanding dengan banyaknya vitamin A yang terkandung dalam suatu bahan. Oleh karena itu reaksi dapat dijadikan dasar penentuan kualitatif vitamin A secara kolorimetri.
2. Penentuan adanya vitamin D
Percobaan ini dilakukan untuk membuktikan adanya vitamin D dalam suatu bahan dengan cara mencampurkan minyak ikan dengan larutan H2SO4 lalu dipanaskan beberapa menit, setelah itu didinginkan dan diuji dengan pereaksi Carr-Price. Adanya warna jingga-kuning berarti vitamin D positif.
3. Penentuan adanya vitamin B1
Percobaan ini dilakukan untuk membuktikan adanya vitamin D dalam suatu bahan dengan cara mencampurkan thiamin dengan Pb-asetat dan NaOH kemudian panaskan, jika timbul endapan warna coklat-hitam menandakan vitamin B1 positif. Atau dapat juga dilakukan dengan cara mencampurkan tiamin dengan larutan Bismuth nitrat dan tambahkan larutan KI. Timbulnya warna endapan merah jingga berarti vitamin B1 positif.
4. Penentuan adanya vitamin B6
Percobaan ini dilakukan untuk membuktikan adanya vitamin B6 dengan cara mencampurkan larutan pirodoksin dengan CuSO4 lalu ditambahkan NaOH. Bla terbentuk warna biru ungu berarti vitamin B6 positif. Atau dengan cara mencampurkan larutan pirooksin dengan FeCl3. Jika terbentuk warna jingga sampai merah tua berarti vitamin B6 positif.
5. Penentuan adanya vitamin C
Percobaan ini dilakukan untuk membuktikan adanya vitamin C dengan cara mencampurkan asam askorbat dengan pereaksi benedict dan kemudian dipanaskan. Bila endapan berwarna hijau kekuningan sampai merah bata menandakan vitamin C positif. Atau dengan cara menetralkan asam askorbat dengan NaHCO3 kemudian ditambahkan larutan FeCL3. Adanya warna merah-ungu berarti vitamin C positif.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pada tahap pemrosesan dan pemasakan banyak vitamin hilang bila menggunakan suhu tinggi, air perebus dibuang, permukaan makanan bersentuhan dengan udara dan menggunakan alkali. Vitamin yang terpengaruh dalam hal ini adalah yang rusak oleh panas, oksidasi, atau yang larut dalam air. (Vita Healt ;2006)
Kehilangan vitamin dalam pemasakan dapat dicegah dengan cara : menggunakan suhu tidak terlalu tinggi.
1. waktu memasak tidak terlalu lama.
2. menggunakan air pemasak sesedikit mungkin.
3. memotong dengan pisau tajam menjadi potongan tidak terlalu halus.
4. panci memasak ditutup.
5. tidak mengguanakan alkali dalam pemasakan.
6. sisa air perebus digunakan untuk masakan lain.
Vitamin adalah sekelompok senyawa organik berbobot molekul kecil yang memiliki fungsi vital dalam metabolisme organisme. Dipandang dari sisi enzimologi (ilmu tentang enzim), vitamin adalah kofaktor dalam reaksi kimia yang dikatalisasi oleh enzim. Istilah "vitamin" sebenarnya sudah tidak tepat untuk dipakai tetapi akhirnya dipertahankan dalam konteks ilmu kesehatan dan gizi. Nama ini berasal dari gabungan kata latin vita yang artinya hidup dan amina (amine) yang mengacu pada suatu gugus organik yang memiliki atom nitrogen (N), karena pada awalnya vitamin dianggap demikian. Kelak diketahui bahwa banyak vitamin sama sekali tidak memiliki atom N. (Saifudin ;2009)
Beberapa fungsi vitamin yang penting diantaranya: (Almatsier ;2004)
• Vitamin A berfungsi :mempertahankan struktur dan fungsi jaringan epitel, membantu pertumbuhan dan proses penglihatan.
• Vitamin D berfungsi :meningkatkan absorbsi kalsium dan fosfor dalam saluran pencernaan, mepunyai peranan penting pada proses klasifikasi , dan berhubungan dengan aktifitas enzim fosfatase alkali di dalam serum.
• Vitamin B1 berfungsi :sebagai koenzim (tiamin difosfat, tiamin pirofosfat) pada reaksi-reaksi metabolisme karbohidrat misalnya : pada reaksi dekarboksilasi ooksidatif asa piruvat menjadi asetil-koenzim A dan reaksi transketolasi pada “the hexose monophosphate shunt”.
• Vitamin B6 berfungsi :fungsi vitamin B6 yang utama ialah sebagai koenzim pada metabolisme asam amino, diantaranya pada proses-proses dekarboksilasi dan transminasi.
• Vitamin C berfungsi :fungsi utama vitamin C ialah mempertahankan keadaan zat-zat intersel jaringan cartilage, dentin dan tulang.
Pada umumnya vitamin tidak dapat dibuat sendiri oleh hewan (atau manusia) karena mereka tidak memiliki enzim untuk membentuknya, sehingga harus dipasok dari makanan. Akan tetapi, ada beberapa vitamin yang dapat dibuat dari zat-zat tertentu (disebut provitamin) di dalam tubuh. Contoh vitamin yang mempunyai provitamin adalah vitamin D. Provitamin D banyak terdapat di jaringan bawah kulit. Vitamin lain yang disintetis di dalam tubuh adalah vitamin K dan vitamin B12. Kedua macam vitamin tersebut disintetis di dalam usus oleh bakteri: (Yazid ; 2006)
Bedasarkan kelarutannya vitamin dibagi menjadi dua kelompok, yaitu vitamin yang larut dalam air (vitamin C dan semua golongan vitamin B) dan yang larut dalam lemak (vitamin A, D, E, dan K). Oleh karena sifat kelarutannya tersebut, vitamin yang larut dalam air tidak dapat disimpan dalam tubuh, sedangkan vitamin yang larut dalam lemak dapat disimpan dalam tubuh. (Yazid ; 2006).
Vitamin yang larut dalam lemak adalah vitamin A, D, E dan K. Untuk beberapa hal, vitamin ini berbeda dari vitamin yang larut dalam air. Vitamin ini terdapat dalam lemak dan bagian berminyak dari makanan. Vitamin ini hanya dicerna oleh empedu karena tidak larut dalam air. Adapun sumber dan macam-macam penyakit yang ditimbulkan dari masing-masing jenis vitamin adalah sebagai berikut : (Syahruddin ; 2007).
1. Vitamin A
• sumber vitamin A = susu, ikan, sayuran berwarna hijau dan kuning, hati, buah-buahan warna merah dan kuning (cabe merah, wortel, pisang, pepaya, dan lain-lain)
• Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin A = rabun senja, katarak, infeksi saluran pernapasan, menurunnya daya tahan tubuh, kulit yang tidak sehat, dan lain-lain.
2. Vitamin B1
• sumber yang mengandung vitamin B1 = gandum, daging, susu, kacang hijau, ragi, beras, telur, dan sebagainya
• Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin B1 = kulit kering/kusik/busik, kulit bersisik, daya tahan tubuh berkurang.
3. Vitamin B12
• sumber yang mengandung vitamin B12 = telur, hati, daging, dan lainnya
• Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin B12 = kurang darah atau anemia, gampang capek/lelah/lesu/lemes/lemas, penyakit pada kulit, dan sebagainya
4. Vitamin C
• sumber yang mengandung vitamin C = jambu klutuk atau jambu batu, jeruk, tomat, nanas, sayur segar, dan lain sebagainya
• Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin C = mudah infeksi pada luka, gusi berdarah, rasa nyeri pada persendian, dan lain-lain
5. Vitamin D
• sumber yang mengandung vitamin D = minyak ikan, susu, telur, keju, dan lain-lain
• Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin D = gigi akan lebih mudah rusak, otok bisa mengalami kejang-kejang, pertumbuhan tulang tidak normal yang biasanya betis kaki akan membentuk huruf O atau X.
6. Vitamin E
• sumber yang mengandung vitamin E = ikan, ayam, kuning telur, kecambah, ragi, minyak tumbuh-tumbuhan, havermut, dsb
• Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin E = bisa mandul baik pria maupun wanita, gangguan syaraf dan otot, dll.
7. Vitamin K
• sumber yang mengandung vitamin K = susu, kuning telur, sayuran segar, dkk
• Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin K = darah sulit membeku bila terluka/berdarah/luka/pendarahan, pendarahan di dalam tubuh, dan sebagainya (organisasi)
Vitamin B1 (Thiamin) pertama kali dikristalkan oleh Jansen dan Donath pada tahun 1962 dan pertama kali disintetis oleh Roger R.Williams dan kawan-kawannya pada tahun 1936 (Neal dan Sauberlich,1980). Ketiga reaksi enzim yang diketahui pada hewan dan manusia yang melibatkan thiamin pirofosfat sebagai suatu ko-enzim adalah dekarboksilase piruvat, dekarboksilase α- ketoglutarat (dalam siklus krebs) dan transketolase (dalam pentose-fosfat shunt) Dan juga merupakan hal yang sangat penting dalam reaksi gelap dari proses fotosintetis, selama konversi CO menjadi karbohidrat. Enzim yang mengikat thiamin, pirofosfat membentuk substrat dalam reaksi-reaksi tersebut. Secara fisiologis, tiamin dalam bentuk tiamin difosfat (kokarboksilase) bertindak sebagai koenzim pada sistem dekarboksilase oksidatif piruvat atau alfa-ketoglutarat masing-masing pada sistem enzim piruvat atau ketoglutarat dehidrogenase. (Toha ;1992)
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
III. 1 Alat
1. Penentuan Adanya Vitamin A
Alat yang dipakai adalah :
a. Tabung reaksi.
b. Pipet ukur dan pipet tetes
c. Spatula
2. Penentuan Adanya Vitamin D
Alat yang dipakai adalah :
a. Tabung reaksi.
b. Pipet ukur, dan pipet tetes.
c. Alat pemanas.
3. Penentuan Adanya Vitamin B1
Alat yang dipakai adalah :
a. .Alat pemanas,
b. .Tabung reaksi.
c. .Pipet ukur dan pipet tetes
4. Penentuan Adanya Vitamin B6
Alat yang dipakai adalah :
a. Tabung reaksi.
b. Pipet tetes
5. Penentuan Adanya Vitamin C
Alat yang dipakai adalah :
a. 1.Kertas pH atau lakmus,
b. 2.Alat pemanas.
c. 3.Tabung reaksi.
d. Pipet tetes.
III.2 Bahan
1. Penentuan Adanya Vitamin A
Bahan-bahan yang digunakan adalah :
1. Minyak ikan
2. Kloroform
3. Kristal SbCl3
4. Asam setat anhidrid
5. Asam trikloroasetat (TCA)
2.Penentuan Adanya Vitamin D
Bahan-bahan yang digunakan adalah :
1. Minyak ikan
2. Kloroform
3. Asam asetat anhidrid
4. Larutan H2O2 5%
5. Asam Trikloroasetat
3.Penentuan Adanya Vitamin B1
Bahan-bahan yang digunakan adalah :
1. Larutan thiamin 1%
2. Larutan bismuth nitrat, Bi (NO3)3
3. Larutan NaOH 6 N
4. Larutan KI 5%
5. Larutan Pb-asetat 10%
4. Penentan Adanya Vitamin B6
Bahan-bahan yang digunakan adalah :
1. Larutan pridoksin- HCl 1%
2. Larutan NaOH 3%
3. Larutan CuSO4 2%
4. Larutan besi (III) klorida, FeCl3 1%
5.Penentuan Adanya Vitamin C
Bahan-bahan yang digunakan adalah :
1. Larutan asam asetat 1%
2. Pereaksi benedid
3. Larutan NaHCO 5%
4. Larutan FeCl3 1%
5. Kertas PH atau Lakmus
III.3 lokasi dan pengambilan sampel
Pengambilan sampel di Laboratorium Biologi Fakultas Kesehatan Masyarakat UNHAS, pada hari minngu tanggal 28 juni 2009.
III.4 Prosedur Kerja
1. Penentuan Adanya Vitamin A
Prosedur A :
Didalam tabung reaksi , masukan 10 tetes minyak ikan. Kemudian ditambahkan 15 tetes klorofom, kemudian dicampur dengan baik.. Ditambahkan 4 tetes asam asetat anhidrid. Lalu dibubuhkan sepucuk sendok Kristal SbCl3 ke dalamnya.kemudian diperhatikan perubahan warna yang terjadi, terbentuknya warna biru yang akan berubah menjadi merah coklat berarti vitamin A positif.
Prosedur B:
Didalam tabung reaksi , masukan 10 tetes minyak ikan. Lalu ditambahkan 10 ml pereaksi asam trikloroasetat dalam kloroform. Dan dicampurkan dengan baik. Lalu diamati warna yang terjadi, timbulnya warna biru kehijauan menandakan vitamin A positif.
2. Penentuan adanya vitamin D
Didalam tabug reaksi masukan 10tetes minyak ikan. Lalu ditambahkan 10 tetes larutan H2O2 5%. Kemudian dikocok campuran selama kira-kira 1menit. Setelah itu dipanaskan diatas api kecil perlahan-lahan sampai tidak ada gelembung-gelembung gas keluar. Usahakan jangan sampai mendidih. Dan didinginkan tabung dibawah air kran. Kemudian dilakukan uji dengan pereaksi Carr-price seperti pada penentan adanya vitamin A.. lalu diamati perubahan warna yang terjadi, adanya warna jingga-kuning berarti vitamin D positif.
3. Penentuan adanya vitamin B1
Prosedur A :
Dimasukan 1 ml larutan thiamine 1% kedalam tabung reaksi. Setelah itu ditambahkan 1 ml larutan Pb-asetat 10% dan 4,5 ml NaOH 6 N. Lalu dicampurkan dengan baik, kemudian perhatikan timbulnya warna kuning yang terjadi. Dan dipanaskan, sehingga akan timbul endapan warna coklat-hitam yang menandakan vitamin B1 positif.
Prosedur B :
Didalam tabung reaksi masukan 5 tetes larutan thiamen 1%. Kemudian ditambahkan 5 tetes larutan bismuth nitrat,dicampurkan dengan baik. Lalu ditambahkan pula satu tetes larutan KI 5%. Dan diperhatikan perubahan warna yang terjadi. Timbulnya endapan warna merah jingga berarti vitamin B1 positif.
4. Penentuan adanya B6
Prosedur A :
Dimaskan 10 tetes larutan pirodoksin 1 % kedalam tabung reaksi. Setelah itu ditambahkan 4 tetes larutan CuSO4 2% dan 20 tetes NaOH 3 N. Kemudian diamati perubahan warna yang terjadi.bila terbentuk warna biru-unggu berarti vitamin B6 positif.
Prosedur B :
Dimasukan 10 tetes larutan pirodoksin 1% kedalam tabung reaksi Setelah itu ditambahkan 3-5 tetes larutan FeCl3. Lalu diamati perubahan warna yang terjadi.timbulnya warna jingga sampai merah tua berarti vitanmin B6 positif
5. Penentuan adanya vitamin C
Prosedur A :
Dimasukan 10 tetes larutan askorbat 1% kedalam tabung reaksi Setelah itu ditambahkan 30 tetes preaksi benedit. Kemudian dipanaskan diatas api kecil sampai mendidih selama 2 menit. Kemudian diperhatikan adanya endapan yang terbentuk warna hijau, kekuningan sampai merah bata berarti vitamin C positif.
Prosedur B :
Dimasukan 10 tetes larutan asam askorbat 1% kedalam tabung reaksi. Kemudian dinetralkan larutan mengunakan NaHCO3 5%. Ditambahkan 2 tetes larutan FeCl3. kemudian diamati warna yang terjadi adanya warnah merah,unggu berarti vitamin C positif.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. 1 Hasil Pengamatan
A. Tabel
1. Penentuan Adanya Vitamin A
Bahan Prosedur A Prosedur B
Minyak ikan 10 tetes 10 tetes
Kloroform 15 tetes -
Asam asetat anhidrid 4 tetes -
SbCl3 kristal Sepucuk sendok -
TCA dalam kloroform - 2 Ml
Camparlah dengan baik
Hasil : Perhatikan warna yang terbentuk Hijau tua (-) Warna kuning (-)
2. Penentuan Adanya Vitamin D
Bahan Tabung 1
Minyak ikan 10 tetes
Larutan H2O2 5% 10 tetes
Panaskan tidak sampai mendidih, lalu uji dengan pereaksi Carr-Price
Hasil :
warna jingga-kuning (+/-) Kuning (+)
3. Penentuan Adanya Vitamin B1
Bahan Prosedur A Prosedur B
Larutan Thiamin 1% 1 mL 5 tetes
Larutan Pb-asetat 10% 1 mL -
Larutan NaOH 6N 4,5 mL -
Larutan Bi(NO3)3 - 5 tetes
Larutan KI - 1 tetes
Campurlah dengan baik dan panaskan untuk prosedur A
Hasil : Perhatikan warna endapan yang terbentuk Warna coklat tidak ada endapan (-) Ada endapan coklat (-)
4. Penentuan Adanya Vitamin B6
Bahan Prosedur A Prosedur B
Larutan asam askorbat 10 tetes 10 tetes
Peraksi Benedict 30 tetes -
Ph larutan - 8
Larutan FeCl3 - 2-3 tetes
Hasil : Perhatikan warna endapan yang terbentuk Terjadi perubahan biru-unggu (+) Tidak terjadi perubahan merah tua (-)
5. Penentuan Adanya Vitamin C
Bahan Prosedur A Prosedur B
Larutan pirodoksin 10 tetes 10 tetes
Larutan CuSO4 4 tetes -
Larutan NaOH 3N 20 tetes -
Larutan FeCl3 1% - 3-5 tetes
Hasil : Perhatikan warna endapan yang terbentuk Merah bata (+) Warna kekuning-kuningan (+)
VI.2 Pembahasan
1. Penentuan Adanya Vitamin A
Pada percobaan ini diperoleh hasil bahwa pada prosedur A dari warna hijau tuahberubah yang menandakan hasil yang negatif atau dengan kata lain terdapat vitamin A(-).
Hal ini dapat dibuktikan pada prosedur B diperoleh hasil larutan yang berwarna kuning yang menandakan vitamin A negative (-). Dengan peraktikumi ini tidak tepat dengan apa yang di katakana oleh teori yang ada.
2. Penentuan Adanya Vitamin D
Pada percobaan ini hasil yang diperoleh warna kuning yang menunjukan vitamin D positif. Vitamin D ini umumnya stabil pada pemanasan, asam dan oksigen. Vitamin D secara lambat dapat didestruksi bila lingkungannya alkalis, terutama bila terdapat udara dan cahaya. Pemanasan dengan hidrogen peroksida tidak merusak vitamin D.
3. Penentuan Adanya Vitamin B1
Pada percobaan ini, prosedur A sebelum dipanaskan berwarna kuning setelah dipanaskan berwarna coklat tapi tidak terdapat endapan. Pada uji ini hasil yang seharusnya terdapat endapan warna coklat-hitam yang menandakan positif vitamin B1. Sedangkan pada prosedur B menghasilkan endapan berwarna coklat , yang menunjukkan hasil negative atau tidak adanya vitamin B1¬.
4. Penentuan Adanya Vitamin B6
Pada percobaan A, diperoleh warna biru yang menunjukkan positif adanya vitamin B6. Namun, pada prosedur B meunjukkan hasil yang negatif dengan titak terjadi perubahan.dengan katalain vitamin B6 negatif.
5. Penentuan Adanya Vitamin C
Pada percobaan A, larutan yang diperoleh berwarna hijau dan ada endapan yang menunjukan vitamin C positif . Sedangkan pada prosedur B diperoleh hasil larutan berwarna merah bata yang menandakan vitamin C positif .
BAB V
PENUTUP
- Vitamin A dapat ditentukan secara kualitatif dengan pereaksi Carr-Price atau pereaksi Trikloroasetat (TCA).
- Adanya vitamin D pada minyak ikan yang ditunjukkan dengan warna hasil larutan yang berwarna jingga-kuning.
- Dalam larutan netral atau alkalis, thiamin mudah rusak sedangkan dalam keadaan asam tahan panas.
- Pirodoksin stabil terhadap pemanasan, alkali dan asam serta paling tahan terhadap pengaruh pengolahan dan penyimpanan.
- Vitamin C mudah dioksidasi terutama bila di panaskan. Dimana proses oksidasi akan dipercepat dengan adanya tembaga, oksigen dan alkali.
V.2 Saran
Adapun saran saya adalah sebaiknya larutan-larutan yang akan digunakan dalam praktikum sebaiknya lebih diperbanyak.
DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, Sunita.2004. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama.
Vitahealth. 2006. Seluk-beluk Food Suplement. Jakarta : Gramedia
Saifuddin, Sirajuddin. 2009. Penuntun Praktikum Biokimia. Laboratorium Makassar : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin.
Yazid, Estien, dkk. 2006. Penuntun Pratikum Biokimia untuk Mahasiswa Analis. Gresik : Andi Yogayakrta.
Syahruddin, Kasim, dkk. 2007. Biokimia. Makassar: UPT MKU Universitas Hasanuddin.
Toha, A. 1992. Biokimia. Surabaya : Alfabeta.
Jawaban Pertanyaan
A. Penentuan Adanya Vitamin A
1. Sebutkan fungsi utama vitamin A!
Jawab : Fungsi utamanya memelihara integritas struktural dan permeabilitas normal membran sel
2. Sebutkan penyakit akibat defisiensi vitamin A!
Jawab :
Hemeralopia (rabun ayam/rabun senja)
Frinoderma, kulit tangan atau kaki tampak bersisik
Pendarahan pada selaput usus, ginjal dan paru-paru
Kerusakan pada kornea
Terhentinya proses pertumbuhan
Terganggunya pertumbuhan pada bayi
3. Efek apakah yang dapat ditimbulkan bila seseorang mengalami hipervitaminosis dari vitamin A? Sebutkan gejalanya!
Jawab :
• Menyebabkan Hipervitaminosis A pada bayi dan anak kecil dapat menjadikan anak menjadi cengeng, kulit kering dan gatal-gatal
• Menyebabkan Sirosis dan Hipertensi Portal
• Menyebabkan Lemah, Rambut rontok, bintik-bintik pada kulit, sakit kepala, otot-otot kaku, sakit tulang, hepatosplenomegali dan papiledema
B. Penentuan Adanya Vitamin D
1. Apa fungsi H2O2 dan pemanasan pada percobaan !
Jawab: Fungsi H2O2 akan merusak vitamin A yang masih terkandung dalam bahan dan pemanasannya dilakukan hanyalah untuk menguapkan bahan lain yang tidak dibutuhkan dalam uji ini agar ketika diuji nanti vitamin D lah yang bereaksi.
2. Jelaskan mengapa pemanasan tidak boleh sampai mendidih!
Jawab: Pada dasarnya pemanasan dilakukan hanyalah untuk menguapkan bahan lain yang tidak dibutuhkan dalam uji ini agar ketika diuji nanti vitamin D lah yang bereaksi.
3. Sebutkan fungsi utama vitamin D dalam tubuh!
Jawab: Fungsi utamanya merangsang sintesis protein pengikat kalsium (calcium-binding protein,CaBP).
4. Sebutkan penyakit akibat defisiensi vitamin D dan gejalanya !
Jawab: Proses Osifikasi (penulangan) terganggu sehingga menimbulkan rakhitis dan tulang mudah patah, terjadi gangguan pada pertukaran zat kapur dan fosfor serta gangguan pada sistem pertulangan.
C. Penentuan Adanya Vitamin B1
1. Sebutkan fungsi utama vitamin B1!
Jawab:
• Thiamin merupakan bagian dari TPP, yaitu koenzim yang dibutuhkan untuk metabolisme energi.
• Berperan dalam sistem syaraf
• Menimbulkan nafsu makan
• membantu penggunaan karbohidrat dalam tubuh dan sangat berperan dalam sistem saraf.
2. Tuliskan struktur kimia vitamin B1!
Jawab:
D. Penentuan Adanya Vitamin B6
1. Sebutkan fungsi utama vitamin B6!
Jawab:
• Berperan dalam metabolisme asam amino dan asam lemak.
• Membantu tubuh untuk mensintesis asam amino nonesensial.
• Berperan dalam produksi sel darah merah.
• Berperan mengatur dalam penggunaan protein, lemak, karbohidrat
• Berperan dalam pembaruan sel darah merah.
• Merupakan co factor terhadap beberapa jenis enzim
2. Sebutkan penyakit akibat defisiensi vitamin B6 dengan gejalanya!
Jawab: gejala kegagalan pertumbuhan, kerusakan fungsi motorik dan sawah.
E. Penentuan Adanya Vitamin C
1. Jelaskan mengapa vitamin C positif terhadap uji Benedict!
Jawab: Dalam larutan vitamin C mudah rusak karena oksidasi dari udara, tetapi lebih stabil bila terdapat dalam bentuk kristal kering. Jika vitamin C dilarutkan dengan asam askorbat dan pereaksi Benedict menghasilkan warna merah bata yang menunjukkan bahan asam askorbat mengandung vitamin C.
2. Sebutkan fungsi utama vitamin C dalam tubuh!
Jawab:
• Berperan membantu spesifik enzim dalam melakukan fungsinya.
• Bekerja sebagai antioksidan.
• Membentuk kolagen, serat, struktur protein.
• Meningkatkan ketahanan tubuh terhadap infeksi dan membantu tubuh menyerap zat besi.
• Membentuk senyawa kimiawi yang berfungsi sebagai perekat antar sel-sel.
• Berperan sekali dalam penyembuhan luka, memperkuat aliran darah dan membantu penyerapan zat besi, juga memperkuat daya tahan terhadap infeksi terhadap tubuh.
• Berperan dalam pembentukan substansi antarsel berbagai jaringan
• Meningkatkan aktivitas pagositas sel darah putih
• Meningkatkan absorpsi zat besi dalam usus serta transportasi zat besi
3. Sebutkan penyakit akibat defisiensi vitamin C dan gejalanya!
Jawab: Berakibat pada sistem syaraf dan ketegangan otot.
DAFTAR PUSTAKA
Pujiadi, Anna. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta : UI Press.
Almatsier, S. 2001. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Sirajuddin, S. 2009. Penuntun Praktikum Biokimia. Makassar : Laboratorium Terpadu Kesehatan Masyarakat AIPTKMI Regional Indonesia Timur UNHAS.
Sediaoetama, A. D. 2006. Ilmu Gizi. Jakarta : Dian Rakyat.
Lehninger, A. L. 1998. Dasar-Dasar Biokimia I. Jakarta : Erlangga.
Tim Dosen Kimia. 2008. Kimia Dasar 2. Makassar : UPT MKU UNHAS.
laporan enzim
Sabtu, 25 Desember 2010
laporan enzim
BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Latar belakang
Enzim adalah golongan protein yang beerfungsi sebagai katalisator untuk realsi-reaksi kimia di dalam system bilogi dan banyak terdapat dalam sel hidup. Sintesis enzim terjadi di dalam sel dan sebagin besar enzim dapat diperoleh dengan ekstraksi dari jaringan tanpa merusak fungsinya,
Reaksi-reaksi seperti hidrolisis dan oksidasi berlasung sangat cepat di dalam sel-sel hidup pada pH kira-kira netral dan pada suhu tubuh. Ini dapat terjadi karena adanya enzim. Enzim disintesis di dalam sel, tetapi banyak enzim dapat diekstraksi dari sel tanpa kehilangan aktivitasnya.
Sebagai katalisator, enzim berbeda dengan katalisator anorganik dan organik sederhana yang umumnya dapat mengatalisis sebagai reaksi kimia. Enzim mempunyai spesitas yang sanagt tinggi, baik terhadap reaktan ( subtract ) maupun jenis reaksi yang dikatalisiska. Pada umumnya, suatu enzim hanya mengatalisis satu jenis reaksi dan bekerja pada suatu subtract tertentu. Kemuadian, enzim dapat meningkatkan laju reaksi yang luar biasa tanpa pembentukan produk samping dan molekul berfungsi dalam larutan encer pada keadan biasa ( fisiologis) tekanan, suhu, dan pH normal. Hanya sedikit dikatalisator nonbiologi yang dilengkapi sifat-sifat demikian.
Kespesifikan enzim dapat dibedakan dalam dua jenis yaitu :
1. Kespisifikafikan optik
Enzim biasanya mempunyai kespesifikan optic, kecuali epimerasa ( recemase). Misanya maltase dapat mengkatalisa hidrolisa α-glukosida, akan tetapi tidak dapat bekerja terhadap β-glikosida. Enzim ang bekerja terhadap D-karbohidrat tidak dapat mengkatalisa L-karbohidrat, begitu pula enzim-enzim yang mengkalisa asam L-amino tidak dapat mengkalisa asam D-amino.
2. Kespisifikan gugus
Suatu enzim yang dapat bekerja terhadap gugus yang khas, misalnya glikosidase terhadap gugus glikosida, alcohol dehidrogenase terhadap gugus alcohol, pepsin dan tripsin terhadap ikantan peptide, sedangkan esterase terhadap ikatan ester.
Enzim merupakan unit fungsional dari metabolisme sel. Enzim bekerja dengan urutan-urutan yang teratur dan mengkatalisis ratusan reaksi dari reaksi yang sangat sederhana seperti replikasi kromosom sampai reaksi yang sangat rumit, misalnya reaksi yang menguraikan nutrient; menyimpan; mengubah energi kimiawi. Masing-masing reaksi dikatalisis oleh sejenis enzim tertentu.
1.2 Tujuan Percobaan
Tujuan dilakukannya percobaan ini adalah untuk menentukan pH dan temperatur suhu dimana peruraian pati paling cepat akibat kerja enzim amilase.
1.3 Prinsip Percobaan
Menentukan pH dan suhu optimum enzim amylase berdasarkan waktu yang dibutuhkan oleh enzim amylase untuk menghidrolisis amilum menjadi glukosa berdasarkan perubahan warna larutan .
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Enzim menyusun sebagian besar dari protein total dalam sel. Suatu sel dapat memuat 3.000 jenis molekul enzim dan sejumlah besar molekul dari tiap jenis. Enzim dapat mempercepat reaksi kimia, sedangkan protein lain tak dapat. Oleh karena itu, enzim adalah katalis. Selain mampu meningkatkan reaksi, enzim memiliki dua sifat lainsebagai katalis sejati. Pertama, enzim tak ubah oleh reaksi yang dikatalisnya. Kedua (dan yang penting), walaupun dapat mempercepat reaksi, enzim tidak mengubah kedudukan normal dari kesetimbangan kimia. Dengan kata lain, enzim dapat membantu mempercepat pembentukan produk, tetapi akhirnya jumlah produk tetap sama dengan produk yang diperoleh tanpa enzim (Lehninger, 1982).
Suatu enzim bekerja secara khas terhadap suatu substrat tertentu. Kekhasan inilah ciri suatu enzim. Ini sangat berbeda debgan katalis lain (bukan enzim) yang dapat bekerja terhadap berbagai macam reaksi. Enzim urase hanya bekerja terhadap urea sebagai substratnya namun enziim tersebut mempunyai kekhasan tertentu. Misalnya enzim esterase dapat menghidrolisis beberapa ester asam lemak, tetapi tidak dapat menghidrolisis substral lain yang bukan ester. Kekhasan enzim terhadap suatu reaksi disebut kekhasan reaksi (Poedjiadi & Supryatin, 1994).
Untuk dapat bekerja terhadap suatu zat atau substrat harus ada hubungannya atau kontak antara enzim dengan substratnya suatu enzim mempunyai ukuran lebih besar daripada substratnya. Oleh karena itu tidak seluruh bagian enzim dapat berhubungan dengan substra. Hubungan antara substrat dengan enzim hanya terjadi pada bagian tertentu saja. Tempat atau bagian enzim yang mengadakan hubungan atau kontak dengan substrat dinamai bagian aktif (active sita). Hubungan hanya mungkin terjadi apabila bagian aktif mempunyai ruang yang tepat dapat menampung substrat. Hubungan atau kontak antara enzim dengan substrat menyebabkan terjadinya kompleks enzim –substra, kompleks ini merupakan kompleks yang aktif, yang bersifat sementara dan akan terurai lagi apabila reaksi yang diinginkan tealah terjadi (Lehninger, 1982).
Hal yang sangat penting bagi enzim ialah kerjanya yang sangat spesifik. Suatu enzim dapat mengkatalisis satu atau beberapa reaksi saja. Meskipun jumlah enzim ada ribuan yang bersumber dari mahluk hidup, reaksi – reaksi yang dikatalisis oleh enzim – enzim ini ternyata dapat digolongkan ke dalam 6 golongan, sesuai dengan jenis reaksi yang dikatalisisnya yaiitu :
1. Oksidareduktase, kelompok enzim ini mengkatalisasinya reaksi – reaksi oksidasi – reduksi.
2. Transferase, Kelompok enzim ini mengkatalisis reaksi pemindahan berbagai gugus.
3. Hidrolase, Kelompok enzim ini mengkatalisis pemutusan ikatan kovalen sambil mengikat air.
4. Liase, Kelompok enzim ini mengkatalisis pemutusan ikatan kovalen tanpa mengikat air.
5. Isomerase, Kelompok enzim ini mengkatalisis reaksi isomerisasi.
6. Ligase (sintase), Kelompok enzim ini mengkatalisis pembentukkan ikatan kovalen (Hawab, 2000).
Faktor – faktor yang mempengaruhi kerja enzim :
Konsentrasi Enzim
Seperti pada katalis alin, kecepatan suatu reaksi yang menggunakan enzim tergantung pada konsentrasienzim tersebut. Pada suatu konsentrasi substrat tertentu, kecepatan reaksi bertambah dengan bertambahnya konsentrasi enzim (Poedjiadi & Supriatin, 1994).
Konsentrasi Substrat
Hasil eksperimen menunjukkan bahwa dengan konsentrasi enzim yang tetap, maka pertambahan konsentrasi substrat akan menaikan kecepatan reaksi. Akan tetapi pada batas konsentrasi tertentu, tidak terjadi kenaikan kecepatan reaksi walaupun konsentrasi substrat diperbesar. Keadaan ini telah diterangkan oleh Michaelis – Menten dengan hipotesis mereka tentang terjadinya kompleks enzim substrat (Poedjiadi & Supriatin, 1994).
Suhu
Pada suhu rendah reaksi kimia berlangsung lambat , sedangkan pada suhu yang lebih tinggi reaksi berlangsung lebih cepat (Poedjiadi, 1994).
Disamping itu, karena enzim adalah suatu protein, maka kenaikan suhu dapat menyebabkan terjadinya proses denaturasi. Apabila terjadi proses denaturasi, maka bagian aktif enzim akan terganggu dan dengan demikian konsentrasi efektif enzim menjadi berkurang dan kecepatan reaksinya pun akan menurun. Kenaikan suhu sebelum terjadinya proses denaturasi dapat menaikan kecepatan reaksi (Poedjiadi & Supriatin, 1994).
Pengaruh pH
Enzim dapat berbentuk ion positif, ion negatif atau ion bermuatan ganda (zwitter ion). Dengan demikian perubahan pH lingkungan akan berpengaruh terhadap efektivitas bagian aktif enzim dalam membentuk kompleks enzim substrat (Poedjiadi & Supriatin, 1994).
Disamping pengaruh terhadap struktur ion pada enzim, pH rendah atau pH tinggi dapat pula menyebabkan terjadinya proses denaturasi dan ini akan mengakibatkan menurunnya aktivitas enzim (Poedjiadi & Supriatin, 1994).
Pengaruh Inhibitor
Hambatan yang dilakukan oleh inhibitor dapat berupa hambatan tidak reversibel. Hambatan tidak reversibel pada umumnya disebabkan oleh terjadinya proses destruksi atau modifikasi sebuah gugus fungsi atau lebih yang terdapat pada molekul enzim. Hambatan reversibel dapat berupa hambatan bersaing atau habatan tidak bersaing (Poedjiadi & Supriatin, 1994).
Semua enzim adalah protein. Beberapa mempunyai struktur yang agak sederhana, namun sebagiaan besar enzim mempunyai struktur yang rumiit,. Banyak enzim yang strukturnya belum diketahui. Untuk aktifitas biologis, beberapa enzim memerlukan guugus – gugus prostetik, atau kofaktor. Kofaktor ini merupakan bagian non – protein dari enzim itu. Suatu kofaktor dapat berupa ion logam sederhana, ion tembaga misalnya merupakan kofaktor bagi enzim asam askorbat aksidase. Enzim lain mengandung molekul organik non – protein sebagai kofaktor. Gugus prostetik organik seringkali dirujuk sebagai suatu koenzim (Fessenden & Fessenden, 1999).
2. Ciri umum enzim
1. Enzim terbina daripada protein yang dihasilkan oleh sel hidup.
2. Tindakan enzim spesifik. Setiap jenis enzim hanya bertindak balas dengan substrat tertentu sahaja. Contoh: enzim sukrase hanya boleh berindak balas dengan sukrosa tetapi tidak boleh bertindak balas dengan maltosa walaupun kedua-duanya adalah gula.
3. Tindak balas enzim boleh berbalik. Arah tindak balas bergantung kepada jumlah substrat dan hasil yang ada. Tindak balas penguraian lemak akan berlaku dari kiri ke kanan atau dari kanan ke kiri sehingga keseimbangan tercapai antara kedua-dua substrat.
4. Enzim diperlukan dalam kuantiti yang kecil. Sedikit enzim akan memangkinkan satu bilangan besar tindak balas biokimia yang sama.
5. nzim tidak boleh dimusnahkan selepas tindak balas biokimia selesai. Oleh itu, enzim boleh digunakan berulang kali.
6. Suhu optimum bagi tindak balas enzim ialah pada 37oC.
3. Tapak sintesis enzim
1. Maklumat bagi sintesis enzim terdapat di DNA.
2. Heliks ganda dua DNA membuka dan satu bebenang tunggal molekul RNA yang mengandungi maklumat sintesis enzim dibentuk.Proses ini dikenali sebagai proses transkipsi.
3. Bebenang RNA meninggalkan nukleus dan bercantum dengan ribosom di dalam sitoplasma.
4. Ribosom merupakan tapak di mana maklumat yang dibawa oleh RNA digunakan untuk membentuk molekul enzim. Proses ini dikenali sebagai proses penterjemahan.
(protein) kang duwé fungsi Enzim iku siji utawa sapérangan gugus polipeptida minangka katalis (senyawa kang nyepetaké prosès réaksi tanpa entèk ngréaksi) ing sawijining réaksi kimia. Carané kerja enzim yaiku nèmpèl ing sanjaban molekul dat-dat kang lagi réaksi lan kanthi mangkono nambah cepeting prosès réaksi. Panyepetan dumadi amarga enzim ngedhunaké energi pangaktifan kang banjur nggampangaké dumadiné réaksi. Sabagéyan gedhé enzim kerja kanthi cara khas, kang ateges saben jinis enzim mung bisa kerja ing samacem senyawa utawa réaksi kimia. Iki amarga bédaning struktur kimia saben enzim sing sifaté tetep. Minangka conto, enzim α-amilase mung bisa dipigunaaké ing prosès pangrombakan pathi dadi glukosa.
Perkara sing gegandhèngan karo enzim disinaoni ing enzimologi. Ing donya pendhidhikan dhuwur, enzimologi ora disinaoni dhéwé minangka sajurusan dhéwé nanging sagunggungan program studi maringaké mata kuliah iki. Enzimologi utamané disinaoni ing kadhokteran, èlmu pangan, tèknologi pangolahan pangan, lan cawang-cawang èlmu tetanèn.
Kerja enzim dipangaruhi déning sapérangan faktor, utamané yaiku substrat, suhu, kaasaman, kofaktor lan inhibitor. Saben enzim merlokaké suhu lan pH (tingkat kaasaman) optimum kang béda-béda amarga enzim iku protèin, kang bisa ngalami owah-owahan wangun yèn suhu lan kaasamané owah. Ing sanjabaning suhu utawa pH sing selaras, enzim ora bisa kerja sacara optimal utawa strukturé bakal ngalami karusakan. Iki bakal njalari enzim kèlangan fungsiné babar pisan. Kerja enzim uga dipangaruhi déning kofaktor lan inhibitor.
Saiki, enzim iku senyawa sing umum dipigunaaké ing prosès prodhuksi. Enzim kang dipigunaaké umumé asalé saka enzim sing diisolasi saka bakteri. Panggunaan enzim ing prosès prodhuksi bisa ningkataké èfisiènsi sing bakal ningkataké cacahing prodhuksi.
Sumber artikel iki saka kaca situs web: "http://jv.wikipedia.org/wiki/Enzim"
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
III.1. Alat
Alat pemanas atau pendingin, Gelas kimia , Tabung reaksi, pipet ukur
III.2. Bahan
Enzim amylase (saliva ), Larutan amilum 2%, Larutan iodium, Pereaksi Benedict, Larutan HCl 0,4%, pH = 1, Larutan Na2CO3 1%, pH = 9, Aqudes,pH =7
III. 3. Lokasi waktu pengambilan bahan
Lokasi pengambilan bahan praktikum biokimia di laboratorium FKM unhas lantai 3, tepat pada hari senin tanggal 28 juni 2009, pukul 12.00.
III. 4. Prosedur kerja
1. Pengaruh suhu terhadap aktivitas enzim
Disediakan 5 tabung reaksi yang bersih dan kering, masing-masing diisi dengan 2 mL larutan amilum, tambahkan 1 mL enzin amylase pada setiap tabung, tabung 1, dimasukkan kedalam gelas kimia yang yang berisi es, tabung 2, disimpan pada suhu ruangan, tabung 3, dimasukkan kedalam penangas air dengan suhu 37-40°¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬ C, tabung 4 dimasukkan kedalam penangas air dengan suhu 75-80° C,dan tabung 5 dimasukkan ke dalam air mendidih. Kemudian biarkan tabung pada tempatnya selama 15 menit. Selanjutnya uji dengan larutan iodium., uji pula dengan reaksi benedict. Kemudian dicatatlah perubahan warna yang terjadi.
2. Pengaruh pH terhadap aktivitas enzim
Menyediakan 3 tabung reksi yang bersih, kemudian diisi tabung pertama dengan 2 mL larutan HCl 0,4%; tabung kedua dengan 2 mL aquades; dan tabung ketiga dengan 2 mL Na2CO3 1%, didalam setiap tabung ditambahkan 2 mL larutan amilum dan 1 mL enzim.Kemudian dicampurlah sampai homogen, kemudian dibiarkan selama 15 menit. Selanjutnya diuji dengan larutan iodium dan pereaksi benedict. Kemudian diamati dan dicatat perubahan warna yang terjadi.
3. Pengaruh konsentrasi enzim terhadap aktivitas enzim
Menyiapkan 3 tabung reaksi yang bersih, kemudian pada tabung 1, 2, dan 3 berturut-turut diisi dengan enzim amylase : 0,5 mL, 1,0 mL, dan 1,5 mL. Didalan tiap tabung , ditambahkan larutan amilum 2 mL, dicampurlah dengan baik, kemudian dibiarkan selama 15 menit. Selanjutnya, diuji dengan larutan iodium dan peraksi benedict. Dan dicatat dan diamati perubahan yang terjadi.
4. Pengaruh konsentrasi subtract terhadap aktivitas enzim
Menyiapkan 4 tabung reaksi yang bersih, kemudian diisi berturut-turut dengan larutan amilum : 1 mL, 3 mL, 5 mL, 7mL, setiap tabung ditambahkan enzim amylase 1 mL, dan dicampur dengan baik, kemudian dibiarkan selama 15 menit. Selanjutnya diuji dengan larutan iodium dan pereaksi benedict. Kemudian diamati dan dicatat perubahan yang terjadi.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
VI.1 Hasil
a. Pengaruh suhu
Tabel 1. Hasil Pengamatan Pengaruh Suhu Terhadap Aktivitas Enzim
Nomor Tabung Suhu (°C) Perubahan Warna
Uji Iodium Uji benedict
1 0 Keruh Hijau ada endapan
2 25-30 Kuning Hijau
3 37-40 Hijau kebiruan Biru kehijauan
4 75-80 Kuning Hijau ada endapan
5 100 kuning Hijau kekuningan tidak ada endapan
b. Pengaruh pH Terhadap Aktivitas Enzim
Tabel 2. Hasil Pengamatan Pengaruh pH terhadap aktivitas enzim
Nomor Tabung pH Perubahan Warna
Uji Iodium Uji Benedict
1 1.0 Biru pekat Biru
2 7,0 Biru Biru Endapan kekiningan
3 9,0 Biru Biru
c. Pengaruh konsentrasi enzim terhadap aktivitas enzim
Tabel 3. Hasil pengamatan pengaruh konsentrasi enzim terhadap aktivitas enzim
No Konsentrasi Subtrat Konsentrasi Enzim Perubahan Warna
Uji iodium Uji benedict
1 Amilum 2 mL Amilase 0,5 mL Kuning pekat Hijau ada endapan
2 Amilum 2 mL Amilase 1,0 mL Kuning pucat Hijau tidak ada endapan
3 Amilum 2 mL Amilase 1,5 mL Kuning pucat Biru tidak ada endapan
d. Pengaruh Konsentrasi Subtrat Terhadap Aktivitas Enzim
Tabel. 4 Hasil pengamatan konsentrasi subtrat terhadap aktivitas enzim
No. Konsentrasi subtrat Konsentrasi Enzim Perubahan Warna
Uji Iodium Uji Benedict
1 Amilum 1 mL Amilase 1 ml Kuning pucat Hijau ada endapan
2 Amilum 3mL Amilase1 mL Kuning pekat Hijau kekuningan
3 Amilum 5 mL Amilase1 mL Kuning pekat Kekuningan ada endapan
4 Amilum 7 mL Amilase1 mL Kuning pekat Kuning pekat ada endapan
IV.2 PEMBAHASAN
Maksud percobaan tentang pengaturan temperatur terhadap keaktifan suatu enzim , pada suhu sangat rendah, aktifitas enzim sangat terhenti secara reversible. Kenaikan suhu lingkungan akan meningkatkan energy kinetic enzim dan frekuensi tumbukan antara molekul enzim dan substrat, sehingga enzim menjadi aktif. Pada suhu dimana enzim masih aktif, umumnya kenaikan suhu 10oC menyebabkan kecepatan reaksi enzimatis bertambah 1,1 hingga 3,0 kali lebih besar. Pada suhu optimum, kecepatan reaksi enzimatis berlangsung maksimal. Bila suhu ditingkatkan terus, maka enzim akan megalami denaturasi, sehingga aktivitas katalitiknya terhenti. Sebagian besar enzim memiliki suhu optimum 30oC sampai 40oC dan mengalami denaturasi secara irreversible pada pemanasan diatas suhu 60oC .
Di dalam percobaan pengaruh suhu terhadap aktifitas enzim, yang disediakan 5 tabung reaksi yang bersih dan kering, masing – masing diisi dengan 2 ml larutan amilum. Tambahkan 1 ml enzim amylase pada setiap tabung, tabung I masukkan kedalam gelas kimia yang berisi es, tabung II disimpan pada suhu kamar, tabung III masukkan kedalam penangas air dengan suhu 37 – 40 oC, tabung IV masukkan ke dalam penangas air dengan suhu 75 – 80 oC, tabung V masukkan ke dalam penangas air mendidih. Biarkan masing – masing tabung pada tempatnya selama 15 menit, selanjutnya diuji dengan larutan iodium dan benedict.
Pengaruh pH terhadap aktifitas enzim, dimana menggunakan 3 tabung reaksi yang bersih, kemudian isilah tabung I dengan 2 ml larutan HCl 0,4 % ; tabung II dengan 2 ml aquades ; dan tabung III dengan 2 ml Na2CO3 1%. Ke dalam setiap tabung, tambahkan 2 ml larutan amilum dan 1 ml enzim. Campurlah sampai homogen, kemudian biarkan selama 15 menit, selanjutnya diuji dengan larutan iodium dan pereaksi benedict.
Dari hasil pengamatan pada percobaan pengaruh konsentrasi enzim terhadap aktifitas enzim. Dimana menggunakan 3 tabung reaksi yang bersih, kemudian isilah taung I,II,III berturur-turut isilah dengan enzim amylase : 0,5 ml;1,0 ml; dan 1,5 ml. ke dalam tiap tabung di tambahkan larutan amylum 2 ml. dan di campur dengan baik,kemudian di biarkan selama 15 menit. Selanjutnya di uji dengan larutan iodium 3 tetes dan pereaksi benedict 10 tetes.perubahan warna pada iodium tabung I (0,5)berubah warna (kuning pekat), tabung II (1,0) berubah warna (kuning pucat, dan tabung ke tiga) barubah warna (kuning pucat). Sedangkan pada benedict, tabung I berubah warna (hijau dan ada endapan di dalamnya),tabun g ke II berubah warna (hijau tidak adca endapan di dalamnya),dan tabung III berubah warna menjadi (biru tidak adca endapan di dalamnya).
Dari hasi pengaruh konsentrasi substrat terhadao aktivitas enzim . di mana menggunakan 4 tabung reaksi kemudian berturut-turut dengan larutan amilum; 1 ml, 3 ml, 5 ml,dan 7 ml, ke dalam tiap tabung di tambahkan enzim amylase 1 ml, campurlah dengan baik, kemudian biarkan selama 15 menit, selanjutnya, diuji dengan larutan iodium dan pereaksi benedit.pada Uji iodium 1 ml berubah warna (kuning pucat),3 ml bnerubah warna (kuning pekat),5 ml berubah warna (kuning pekat) dan 7 ml berubah warna (kuning pekat).sedangkan pada benedict, 1 ml berubah warna (hijau dan ada endapan di bawahnya),3 ml berubah warna (hijau kekuningan ada endapan di bawahnya),5 ml berubah warna (kuning kehijawan ada endapan di bawahnya),dan 7 ml berubah warna (kuning pekat ada endapan di bawahnya),tetapi semua endapan tidak berwarna merah.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan percobaan yang telah dilakukan diperoleh dapat disimpulkan didapat pH optimumnya 8 dan mendapatkan suhu optimum dari enzim amilase ialah pada suhu 28OC.
5.2. Saran
Sebaiknya digunakan Karbohidarat jenis lain, agar dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan.
DAFTAR PUSTAKA
Fessenden, J. dan Fessenden, R., 1999, Kimia Organik, Jilid II, Erlangga, Jakarta.
Hawab, HM., 2000, Dasar-Dasar Biokimia umum, Bagian pertama, Akademi
Kimia Analisis. Bogor.
Lehninger, A. L., 1982, Dasar-Dasar Biokimia, Erlangga, Jakarta.
Poedjiadi, A. dan Supriyanti, T., 2005, Dasar-Dasar Biokimia, UI Press, Jakarta.
Tim Dosen Biokimia, 2008, Penuntun Praktikum Biokimia, Lab. Biokimia
FMIPA Unhas, Makassar.
http://jv.wikipedia.org/wiki/Enzim"
JAWABAN PERTANYAAN
1. Sebutkan jenis uji lain yang dapat digunakan untuk mengidentifikasikan adanya karbohidrat ?
Jawab :
Jenis uji yang dapat digunakan megidentifikasi adanya karbohidrat, antara lain: monosakarida yang terdiri dari glukosa,. Galaktosa, dan fruktosa. Oligosakarida yang terdiri dari sukrosa, dan laktosa. Serta polisakarida yang terdiri dari pati, selulosa, dan glukosemina.
2. Tuliskan prosedur karbohidrta secara singkat ?
Jawab :
Masukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 3 mL bahan-bahan yang akan diuji sebanyak 1%, ditambah 3 mL HCl 1 N, dan dipanaskan dalam penangas air kemudian uji hidrolasi dilakukan dengan mengambil tetes campuran diatas (sebelum dipanaskan). Dan diperiksa pada keeping tetes dengan menambahkan 1 tetes iodium setelah 3 menit berikutnya, hingga warna coklat kekuning-kuningan ( sama dengan warna blanko atau warnaiodium) barulah hidrolisis dihentikan.
Larutan hidrosa didinginkan, kemudian dibagi 2 tabung reaksi yaitu masing-masing diisi dengan 1 mL NaOH 1N (periksa pHnya). Lalu dilakukan uji benedict pada tabung pertama dan uji saliwanos pada tabung ke 2.
3. Sebutkan bahan alam yang mengandung senyawa furfural dan HMF ?
Jawab :
Bahan-bahan alam yang mengandung fulfur dan HMF yaitu, terdiri dari singkong, jagung, ubi, dan lain-lain.
4. Sebutkan masing-masing dua persamaan dan perbedaan antara amilum dan glikogen ?
Jawab :
Persamaan amilum dan glikogen sama-sama memecahkan dan menguraikannya menjadi kecil. Sedangkan perbedaan yaitu glikogen memecahkan glukosa sedangkan amilum memecahkan amylase.
5. Pada percobaan ini, manakah yang menunjukkan hasil negatif terhadap uji benedict ?
Jawab :
Larutan yang menunjukkan hasil negatif yaitu amilum, dekstrin, sukrosa, dan laktosa.
6. Sebutkan jenis uji yang dapat digunakan untuk membuktikan adanya gula reduksi ?
Jawab :
Jenis uji digunakan untuk membuktikan adanya gula reduksi maltosa, galaktosa, fruktosa, glukosa, dan arabinosa.
7. Sebutkan kelebihan menggunakan uji Benedict dibandingkan terhadap uji tersebut ?
Jawab :
Sebab uji benedict mengandung Natrium Karbonat Anhidrat.
8. Pada pemanasan yang lebih lama, disakarida dapat pula memberikan hasil positif terhadap uji Barfoed. Mengapa ?
Jawab :
Karena pada uji Barfoed sudah mengalami peruraian, sehingga warnanya semakin terlihat dengan jelas.
9. Pada pemanasan yang terlalu lama, sukrosa pun menunjukkan hasil positif terhadap uji Seliwanoff. Mengapa ?
Jawab :
Karena dengan melihat warnanya apakah sudah sama dengan warna sebenarnya.
10. Mengapa larutan hasil hidrolisis perlu dinetralkan terlebih dahulu ?
Jawab :
Larutan hasil hidrolisis perlu dinetralkan terlebih dahulu, supaya dapat memperoleh hasil yang sempurna.
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur atas kehadirat ALLAH SWT, atas berkat dan hidayah-Nyalah yang telah diberikan kepada saya. Sehingga laporan lengkap BIOKIMIA ini dapat terselesaikan dengan baik. Saya sadari penulisan laporan ini masih jauh dari yang diharapkan oleh kordinator asisten maupun para asisten pembimbing. Namun kritik dan saran sangat saya perlukan sebagai bantuan untuk kedepannya.
Semoga dengan adanya laporan lengkap ini dapat memberi pengetahuan bagi saya. Mohon maaf apabila ada kata yang tidak sesuai dengan keinginan koordinator asisten dan para asisten pembimbing.
Wassalam
Makassar, 2 Juli 2009
Penyusun
LEMBAR PENGESAHAN
Laporan Lengkap Praktikum BIOKIMIA ini dibuat sebagai salah satu syarat kelulusan Praktikum BIOKIMIA Fakultas Ilmu Kesehatan, Jurusan Keperawatan, Universitas Islam Makassar.
NO JUDUL PERCOBAAN ASISTEN TTD
1 KARBOHIDRAT
2 LIPIDA
3 PROTEIN
4 ENZIM
5 VITAMIN
Makassar, 2 Juli 2009
Koordinator Laboratorium Koordinator Asisten
( ) ( )
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I KARBOHIDRAT
BAB II LIPIDA
BAB III PROTEIN
BAB IV ENZIM
BAB V VITAMIN
LAMPIRAN FOTO
LAMPIRAN SOAL
PENDAHULUAN
I.1. Latar belakang
Enzim adalah golongan protein yang beerfungsi sebagai katalisator untuk realsi-reaksi kimia di dalam system bilogi dan banyak terdapat dalam sel hidup. Sintesis enzim terjadi di dalam sel dan sebagin besar enzim dapat diperoleh dengan ekstraksi dari jaringan tanpa merusak fungsinya,
Reaksi-reaksi seperti hidrolisis dan oksidasi berlasung sangat cepat di dalam sel-sel hidup pada pH kira-kira netral dan pada suhu tubuh. Ini dapat terjadi karena adanya enzim. Enzim disintesis di dalam sel, tetapi banyak enzim dapat diekstraksi dari sel tanpa kehilangan aktivitasnya.
Sebagai katalisator, enzim berbeda dengan katalisator anorganik dan organik sederhana yang umumnya dapat mengatalisis sebagai reaksi kimia. Enzim mempunyai spesitas yang sanagt tinggi, baik terhadap reaktan ( subtract ) maupun jenis reaksi yang dikatalisiska. Pada umumnya, suatu enzim hanya mengatalisis satu jenis reaksi dan bekerja pada suatu subtract tertentu. Kemuadian, enzim dapat meningkatkan laju reaksi yang luar biasa tanpa pembentukan produk samping dan molekul berfungsi dalam larutan encer pada keadan biasa ( fisiologis) tekanan, suhu, dan pH normal. Hanya sedikit dikatalisator nonbiologi yang dilengkapi sifat-sifat demikian.
Kespesifikan enzim dapat dibedakan dalam dua jenis yaitu :
1. Kespisifikafikan optik
Enzim biasanya mempunyai kespesifikan optic, kecuali epimerasa ( recemase). Misanya maltase dapat mengkatalisa hidrolisa α-glukosida, akan tetapi tidak dapat bekerja terhadap β-glikosida. Enzim ang bekerja terhadap D-karbohidrat tidak dapat mengkatalisa L-karbohidrat, begitu pula enzim-enzim yang mengkalisa asam L-amino tidak dapat mengkalisa asam D-amino.
2. Kespisifikan gugus
Suatu enzim yang dapat bekerja terhadap gugus yang khas, misalnya glikosidase terhadap gugus glikosida, alcohol dehidrogenase terhadap gugus alcohol, pepsin dan tripsin terhadap ikantan peptide, sedangkan esterase terhadap ikatan ester.
Enzim merupakan unit fungsional dari metabolisme sel. Enzim bekerja dengan urutan-urutan yang teratur dan mengkatalisis ratusan reaksi dari reaksi yang sangat sederhana seperti replikasi kromosom sampai reaksi yang sangat rumit, misalnya reaksi yang menguraikan nutrient; menyimpan; mengubah energi kimiawi. Masing-masing reaksi dikatalisis oleh sejenis enzim tertentu.
1.2 Tujuan Percobaan
Tujuan dilakukannya percobaan ini adalah untuk menentukan pH dan temperatur suhu dimana peruraian pati paling cepat akibat kerja enzim amilase.
1.3 Prinsip Percobaan
Menentukan pH dan suhu optimum enzim amylase berdasarkan waktu yang dibutuhkan oleh enzim amylase untuk menghidrolisis amilum menjadi glukosa berdasarkan perubahan warna larutan .
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Enzim menyusun sebagian besar dari protein total dalam sel. Suatu sel dapat memuat 3.000 jenis molekul enzim dan sejumlah besar molekul dari tiap jenis. Enzim dapat mempercepat reaksi kimia, sedangkan protein lain tak dapat. Oleh karena itu, enzim adalah katalis. Selain mampu meningkatkan reaksi, enzim memiliki dua sifat lainsebagai katalis sejati. Pertama, enzim tak ubah oleh reaksi yang dikatalisnya. Kedua (dan yang penting), walaupun dapat mempercepat reaksi, enzim tidak mengubah kedudukan normal dari kesetimbangan kimia. Dengan kata lain, enzim dapat membantu mempercepat pembentukan produk, tetapi akhirnya jumlah produk tetap sama dengan produk yang diperoleh tanpa enzim (Lehninger, 1982).
Suatu enzim bekerja secara khas terhadap suatu substrat tertentu. Kekhasan inilah ciri suatu enzim. Ini sangat berbeda debgan katalis lain (bukan enzim) yang dapat bekerja terhadap berbagai macam reaksi. Enzim urase hanya bekerja terhadap urea sebagai substratnya namun enziim tersebut mempunyai kekhasan tertentu. Misalnya enzim esterase dapat menghidrolisis beberapa ester asam lemak, tetapi tidak dapat menghidrolisis substral lain yang bukan ester. Kekhasan enzim terhadap suatu reaksi disebut kekhasan reaksi (Poedjiadi & Supryatin, 1994).
Untuk dapat bekerja terhadap suatu zat atau substrat harus ada hubungannya atau kontak antara enzim dengan substratnya suatu enzim mempunyai ukuran lebih besar daripada substratnya. Oleh karena itu tidak seluruh bagian enzim dapat berhubungan dengan substra. Hubungan antara substrat dengan enzim hanya terjadi pada bagian tertentu saja. Tempat atau bagian enzim yang mengadakan hubungan atau kontak dengan substrat dinamai bagian aktif (active sita). Hubungan hanya mungkin terjadi apabila bagian aktif mempunyai ruang yang tepat dapat menampung substrat. Hubungan atau kontak antara enzim dengan substrat menyebabkan terjadinya kompleks enzim –substra, kompleks ini merupakan kompleks yang aktif, yang bersifat sementara dan akan terurai lagi apabila reaksi yang diinginkan tealah terjadi (Lehninger, 1982).
Hal yang sangat penting bagi enzim ialah kerjanya yang sangat spesifik. Suatu enzim dapat mengkatalisis satu atau beberapa reaksi saja. Meskipun jumlah enzim ada ribuan yang bersumber dari mahluk hidup, reaksi – reaksi yang dikatalisis oleh enzim – enzim ini ternyata dapat digolongkan ke dalam 6 golongan, sesuai dengan jenis reaksi yang dikatalisisnya yaiitu :
1. Oksidareduktase, kelompok enzim ini mengkatalisasinya reaksi – reaksi oksidasi – reduksi.
2. Transferase, Kelompok enzim ini mengkatalisis reaksi pemindahan berbagai gugus.
3. Hidrolase, Kelompok enzim ini mengkatalisis pemutusan ikatan kovalen sambil mengikat air.
4. Liase, Kelompok enzim ini mengkatalisis pemutusan ikatan kovalen tanpa mengikat air.
5. Isomerase, Kelompok enzim ini mengkatalisis reaksi isomerisasi.
6. Ligase (sintase), Kelompok enzim ini mengkatalisis pembentukkan ikatan kovalen (Hawab, 2000).
Faktor – faktor yang mempengaruhi kerja enzim :
Konsentrasi Enzim
Seperti pada katalis alin, kecepatan suatu reaksi yang menggunakan enzim tergantung pada konsentrasienzim tersebut. Pada suatu konsentrasi substrat tertentu, kecepatan reaksi bertambah dengan bertambahnya konsentrasi enzim (Poedjiadi & Supriatin, 1994).
Konsentrasi Substrat
Hasil eksperimen menunjukkan bahwa dengan konsentrasi enzim yang tetap, maka pertambahan konsentrasi substrat akan menaikan kecepatan reaksi. Akan tetapi pada batas konsentrasi tertentu, tidak terjadi kenaikan kecepatan reaksi walaupun konsentrasi substrat diperbesar. Keadaan ini telah diterangkan oleh Michaelis – Menten dengan hipotesis mereka tentang terjadinya kompleks enzim substrat (Poedjiadi & Supriatin, 1994).
Suhu
Pada suhu rendah reaksi kimia berlangsung lambat , sedangkan pada suhu yang lebih tinggi reaksi berlangsung lebih cepat (Poedjiadi, 1994).
Disamping itu, karena enzim adalah suatu protein, maka kenaikan suhu dapat menyebabkan terjadinya proses denaturasi. Apabila terjadi proses denaturasi, maka bagian aktif enzim akan terganggu dan dengan demikian konsentrasi efektif enzim menjadi berkurang dan kecepatan reaksinya pun akan menurun. Kenaikan suhu sebelum terjadinya proses denaturasi dapat menaikan kecepatan reaksi (Poedjiadi & Supriatin, 1994).
Pengaruh pH
Enzim dapat berbentuk ion positif, ion negatif atau ion bermuatan ganda (zwitter ion). Dengan demikian perubahan pH lingkungan akan berpengaruh terhadap efektivitas bagian aktif enzim dalam membentuk kompleks enzim substrat (Poedjiadi & Supriatin, 1994).
Disamping pengaruh terhadap struktur ion pada enzim, pH rendah atau pH tinggi dapat pula menyebabkan terjadinya proses denaturasi dan ini akan mengakibatkan menurunnya aktivitas enzim (Poedjiadi & Supriatin, 1994).
Pengaruh Inhibitor
Hambatan yang dilakukan oleh inhibitor dapat berupa hambatan tidak reversibel. Hambatan tidak reversibel pada umumnya disebabkan oleh terjadinya proses destruksi atau modifikasi sebuah gugus fungsi atau lebih yang terdapat pada molekul enzim. Hambatan reversibel dapat berupa hambatan bersaing atau habatan tidak bersaing (Poedjiadi & Supriatin, 1994).
Semua enzim adalah protein. Beberapa mempunyai struktur yang agak sederhana, namun sebagiaan besar enzim mempunyai struktur yang rumiit,. Banyak enzim yang strukturnya belum diketahui. Untuk aktifitas biologis, beberapa enzim memerlukan guugus – gugus prostetik, atau kofaktor. Kofaktor ini merupakan bagian non – protein dari enzim itu. Suatu kofaktor dapat berupa ion logam sederhana, ion tembaga misalnya merupakan kofaktor bagi enzim asam askorbat aksidase. Enzim lain mengandung molekul organik non – protein sebagai kofaktor. Gugus prostetik organik seringkali dirujuk sebagai suatu koenzim (Fessenden & Fessenden, 1999).
2. Ciri umum enzim
1. Enzim terbina daripada protein yang dihasilkan oleh sel hidup.
2. Tindakan enzim spesifik. Setiap jenis enzim hanya bertindak balas dengan substrat tertentu sahaja. Contoh: enzim sukrase hanya boleh berindak balas dengan sukrosa tetapi tidak boleh bertindak balas dengan maltosa walaupun kedua-duanya adalah gula.
3. Tindak balas enzim boleh berbalik. Arah tindak balas bergantung kepada jumlah substrat dan hasil yang ada. Tindak balas penguraian lemak akan berlaku dari kiri ke kanan atau dari kanan ke kiri sehingga keseimbangan tercapai antara kedua-dua substrat.
4. Enzim diperlukan dalam kuantiti yang kecil. Sedikit enzim akan memangkinkan satu bilangan besar tindak balas biokimia yang sama.
5. nzim tidak boleh dimusnahkan selepas tindak balas biokimia selesai. Oleh itu, enzim boleh digunakan berulang kali.
6. Suhu optimum bagi tindak balas enzim ialah pada 37oC.
3. Tapak sintesis enzim
1. Maklumat bagi sintesis enzim terdapat di DNA.
2. Heliks ganda dua DNA membuka dan satu bebenang tunggal molekul RNA yang mengandungi maklumat sintesis enzim dibentuk.Proses ini dikenali sebagai proses transkipsi.
3. Bebenang RNA meninggalkan nukleus dan bercantum dengan ribosom di dalam sitoplasma.
4. Ribosom merupakan tapak di mana maklumat yang dibawa oleh RNA digunakan untuk membentuk molekul enzim. Proses ini dikenali sebagai proses penterjemahan.
(protein) kang duwé fungsi Enzim iku siji utawa sapérangan gugus polipeptida minangka katalis (senyawa kang nyepetaké prosès réaksi tanpa entèk ngréaksi) ing sawijining réaksi kimia. Carané kerja enzim yaiku nèmpèl ing sanjaban molekul dat-dat kang lagi réaksi lan kanthi mangkono nambah cepeting prosès réaksi. Panyepetan dumadi amarga enzim ngedhunaké energi pangaktifan kang banjur nggampangaké dumadiné réaksi. Sabagéyan gedhé enzim kerja kanthi cara khas, kang ateges saben jinis enzim mung bisa kerja ing samacem senyawa utawa réaksi kimia. Iki amarga bédaning struktur kimia saben enzim sing sifaté tetep. Minangka conto, enzim α-amilase mung bisa dipigunaaké ing prosès pangrombakan pathi dadi glukosa.
Perkara sing gegandhèngan karo enzim disinaoni ing enzimologi. Ing donya pendhidhikan dhuwur, enzimologi ora disinaoni dhéwé minangka sajurusan dhéwé nanging sagunggungan program studi maringaké mata kuliah iki. Enzimologi utamané disinaoni ing kadhokteran, èlmu pangan, tèknologi pangolahan pangan, lan cawang-cawang èlmu tetanèn.
Kerja enzim dipangaruhi déning sapérangan faktor, utamané yaiku substrat, suhu, kaasaman, kofaktor lan inhibitor. Saben enzim merlokaké suhu lan pH (tingkat kaasaman) optimum kang béda-béda amarga enzim iku protèin, kang bisa ngalami owah-owahan wangun yèn suhu lan kaasamané owah. Ing sanjabaning suhu utawa pH sing selaras, enzim ora bisa kerja sacara optimal utawa strukturé bakal ngalami karusakan. Iki bakal njalari enzim kèlangan fungsiné babar pisan. Kerja enzim uga dipangaruhi déning kofaktor lan inhibitor.
Saiki, enzim iku senyawa sing umum dipigunaaké ing prosès prodhuksi. Enzim kang dipigunaaké umumé asalé saka enzim sing diisolasi saka bakteri. Panggunaan enzim ing prosès prodhuksi bisa ningkataké èfisiènsi sing bakal ningkataké cacahing prodhuksi.
Sumber artikel iki saka kaca situs web: "http://jv.wikipedia.org/wiki/Enzim"
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
III.1. Alat
Alat pemanas atau pendingin, Gelas kimia , Tabung reaksi, pipet ukur
III.2. Bahan
Enzim amylase (saliva ), Larutan amilum 2%, Larutan iodium, Pereaksi Benedict, Larutan HCl 0,4%, pH = 1, Larutan Na2CO3 1%, pH = 9, Aqudes,pH =7
III. 3. Lokasi waktu pengambilan bahan
Lokasi pengambilan bahan praktikum biokimia di laboratorium FKM unhas lantai 3, tepat pada hari senin tanggal 28 juni 2009, pukul 12.00.
III. 4. Prosedur kerja
1. Pengaruh suhu terhadap aktivitas enzim
Disediakan 5 tabung reaksi yang bersih dan kering, masing-masing diisi dengan 2 mL larutan amilum, tambahkan 1 mL enzin amylase pada setiap tabung, tabung 1, dimasukkan kedalam gelas kimia yang yang berisi es, tabung 2, disimpan pada suhu ruangan, tabung 3, dimasukkan kedalam penangas air dengan suhu 37-40°¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬ C, tabung 4 dimasukkan kedalam penangas air dengan suhu 75-80° C,dan tabung 5 dimasukkan ke dalam air mendidih. Kemudian biarkan tabung pada tempatnya selama 15 menit. Selanjutnya uji dengan larutan iodium., uji pula dengan reaksi benedict. Kemudian dicatatlah perubahan warna yang terjadi.
2. Pengaruh pH terhadap aktivitas enzim
Menyediakan 3 tabung reksi yang bersih, kemudian diisi tabung pertama dengan 2 mL larutan HCl 0,4%; tabung kedua dengan 2 mL aquades; dan tabung ketiga dengan 2 mL Na2CO3 1%, didalam setiap tabung ditambahkan 2 mL larutan amilum dan 1 mL enzim.Kemudian dicampurlah sampai homogen, kemudian dibiarkan selama 15 menit. Selanjutnya diuji dengan larutan iodium dan pereaksi benedict. Kemudian diamati dan dicatat perubahan warna yang terjadi.
3. Pengaruh konsentrasi enzim terhadap aktivitas enzim
Menyiapkan 3 tabung reaksi yang bersih, kemudian pada tabung 1, 2, dan 3 berturut-turut diisi dengan enzim amylase : 0,5 mL, 1,0 mL, dan 1,5 mL. Didalan tiap tabung , ditambahkan larutan amilum 2 mL, dicampurlah dengan baik, kemudian dibiarkan selama 15 menit. Selanjutnya, diuji dengan larutan iodium dan peraksi benedict. Dan dicatat dan diamati perubahan yang terjadi.
4. Pengaruh konsentrasi subtract terhadap aktivitas enzim
Menyiapkan 4 tabung reaksi yang bersih, kemudian diisi berturut-turut dengan larutan amilum : 1 mL, 3 mL, 5 mL, 7mL, setiap tabung ditambahkan enzim amylase 1 mL, dan dicampur dengan baik, kemudian dibiarkan selama 15 menit. Selanjutnya diuji dengan larutan iodium dan pereaksi benedict. Kemudian diamati dan dicatat perubahan yang terjadi.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
VI.1 Hasil
a. Pengaruh suhu
Tabel 1. Hasil Pengamatan Pengaruh Suhu Terhadap Aktivitas Enzim
Nomor Tabung Suhu (°C) Perubahan Warna
Uji Iodium Uji benedict
1 0 Keruh Hijau ada endapan
2 25-30 Kuning Hijau
3 37-40 Hijau kebiruan Biru kehijauan
4 75-80 Kuning Hijau ada endapan
5 100 kuning Hijau kekuningan tidak ada endapan
b. Pengaruh pH Terhadap Aktivitas Enzim
Tabel 2. Hasil Pengamatan Pengaruh pH terhadap aktivitas enzim
Nomor Tabung pH Perubahan Warna
Uji Iodium Uji Benedict
1 1.0 Biru pekat Biru
2 7,0 Biru Biru Endapan kekiningan
3 9,0 Biru Biru
c. Pengaruh konsentrasi enzim terhadap aktivitas enzim
Tabel 3. Hasil pengamatan pengaruh konsentrasi enzim terhadap aktivitas enzim
No Konsentrasi Subtrat Konsentrasi Enzim Perubahan Warna
Uji iodium Uji benedict
1 Amilum 2 mL Amilase 0,5 mL Kuning pekat Hijau ada endapan
2 Amilum 2 mL Amilase 1,0 mL Kuning pucat Hijau tidak ada endapan
3 Amilum 2 mL Amilase 1,5 mL Kuning pucat Biru tidak ada endapan
d. Pengaruh Konsentrasi Subtrat Terhadap Aktivitas Enzim
Tabel. 4 Hasil pengamatan konsentrasi subtrat terhadap aktivitas enzim
No. Konsentrasi subtrat Konsentrasi Enzim Perubahan Warna
Uji Iodium Uji Benedict
1 Amilum 1 mL Amilase 1 ml Kuning pucat Hijau ada endapan
2 Amilum 3mL Amilase1 mL Kuning pekat Hijau kekuningan
3 Amilum 5 mL Amilase1 mL Kuning pekat Kekuningan ada endapan
4 Amilum 7 mL Amilase1 mL Kuning pekat Kuning pekat ada endapan
IV.2 PEMBAHASAN
Maksud percobaan tentang pengaturan temperatur terhadap keaktifan suatu enzim , pada suhu sangat rendah, aktifitas enzim sangat terhenti secara reversible. Kenaikan suhu lingkungan akan meningkatkan energy kinetic enzim dan frekuensi tumbukan antara molekul enzim dan substrat, sehingga enzim menjadi aktif. Pada suhu dimana enzim masih aktif, umumnya kenaikan suhu 10oC menyebabkan kecepatan reaksi enzimatis bertambah 1,1 hingga 3,0 kali lebih besar. Pada suhu optimum, kecepatan reaksi enzimatis berlangsung maksimal. Bila suhu ditingkatkan terus, maka enzim akan megalami denaturasi, sehingga aktivitas katalitiknya terhenti. Sebagian besar enzim memiliki suhu optimum 30oC sampai 40oC dan mengalami denaturasi secara irreversible pada pemanasan diatas suhu 60oC .
Di dalam percobaan pengaruh suhu terhadap aktifitas enzim, yang disediakan 5 tabung reaksi yang bersih dan kering, masing – masing diisi dengan 2 ml larutan amilum. Tambahkan 1 ml enzim amylase pada setiap tabung, tabung I masukkan kedalam gelas kimia yang berisi es, tabung II disimpan pada suhu kamar, tabung III masukkan kedalam penangas air dengan suhu 37 – 40 oC, tabung IV masukkan ke dalam penangas air dengan suhu 75 – 80 oC, tabung V masukkan ke dalam penangas air mendidih. Biarkan masing – masing tabung pada tempatnya selama 15 menit, selanjutnya diuji dengan larutan iodium dan benedict.
Pengaruh pH terhadap aktifitas enzim, dimana menggunakan 3 tabung reaksi yang bersih, kemudian isilah tabung I dengan 2 ml larutan HCl 0,4 % ; tabung II dengan 2 ml aquades ; dan tabung III dengan 2 ml Na2CO3 1%. Ke dalam setiap tabung, tambahkan 2 ml larutan amilum dan 1 ml enzim. Campurlah sampai homogen, kemudian biarkan selama 15 menit, selanjutnya diuji dengan larutan iodium dan pereaksi benedict.
Dari hasil pengamatan pada percobaan pengaruh konsentrasi enzim terhadap aktifitas enzim. Dimana menggunakan 3 tabung reaksi yang bersih, kemudian isilah taung I,II,III berturur-turut isilah dengan enzim amylase : 0,5 ml;1,0 ml; dan 1,5 ml. ke dalam tiap tabung di tambahkan larutan amylum 2 ml. dan di campur dengan baik,kemudian di biarkan selama 15 menit. Selanjutnya di uji dengan larutan iodium 3 tetes dan pereaksi benedict 10 tetes.perubahan warna pada iodium tabung I (0,5)berubah warna (kuning pekat), tabung II (1,0) berubah warna (kuning pucat, dan tabung ke tiga) barubah warna (kuning pucat). Sedangkan pada benedict, tabung I berubah warna (hijau dan ada endapan di dalamnya),tabun g ke II berubah warna (hijau tidak adca endapan di dalamnya),dan tabung III berubah warna menjadi (biru tidak adca endapan di dalamnya).
Dari hasi pengaruh konsentrasi substrat terhadao aktivitas enzim . di mana menggunakan 4 tabung reaksi kemudian berturut-turut dengan larutan amilum; 1 ml, 3 ml, 5 ml,dan 7 ml, ke dalam tiap tabung di tambahkan enzim amylase 1 ml, campurlah dengan baik, kemudian biarkan selama 15 menit, selanjutnya, diuji dengan larutan iodium dan pereaksi benedit.pada Uji iodium 1 ml berubah warna (kuning pucat),3 ml bnerubah warna (kuning pekat),5 ml berubah warna (kuning pekat) dan 7 ml berubah warna (kuning pekat).sedangkan pada benedict, 1 ml berubah warna (hijau dan ada endapan di bawahnya),3 ml berubah warna (hijau kekuningan ada endapan di bawahnya),5 ml berubah warna (kuning kehijawan ada endapan di bawahnya),dan 7 ml berubah warna (kuning pekat ada endapan di bawahnya),tetapi semua endapan tidak berwarna merah.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan percobaan yang telah dilakukan diperoleh dapat disimpulkan didapat pH optimumnya 8 dan mendapatkan suhu optimum dari enzim amilase ialah pada suhu 28OC.
5.2. Saran
Sebaiknya digunakan Karbohidarat jenis lain, agar dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan.
DAFTAR PUSTAKA
Fessenden, J. dan Fessenden, R., 1999, Kimia Organik, Jilid II, Erlangga, Jakarta.
Hawab, HM., 2000, Dasar-Dasar Biokimia umum, Bagian pertama, Akademi
Kimia Analisis. Bogor.
Lehninger, A. L., 1982, Dasar-Dasar Biokimia, Erlangga, Jakarta.
Poedjiadi, A. dan Supriyanti, T., 2005, Dasar-Dasar Biokimia, UI Press, Jakarta.
Tim Dosen Biokimia, 2008, Penuntun Praktikum Biokimia, Lab. Biokimia
FMIPA Unhas, Makassar.
http://jv.wikipedia.org/wiki/Enzim"
JAWABAN PERTANYAAN
1. Sebutkan jenis uji lain yang dapat digunakan untuk mengidentifikasikan adanya karbohidrat ?
Jawab :
Jenis uji yang dapat digunakan megidentifikasi adanya karbohidrat, antara lain: monosakarida yang terdiri dari glukosa,. Galaktosa, dan fruktosa. Oligosakarida yang terdiri dari sukrosa, dan laktosa. Serta polisakarida yang terdiri dari pati, selulosa, dan glukosemina.
2. Tuliskan prosedur karbohidrta secara singkat ?
Jawab :
Masukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 3 mL bahan-bahan yang akan diuji sebanyak 1%, ditambah 3 mL HCl 1 N, dan dipanaskan dalam penangas air kemudian uji hidrolasi dilakukan dengan mengambil tetes campuran diatas (sebelum dipanaskan). Dan diperiksa pada keeping tetes dengan menambahkan 1 tetes iodium setelah 3 menit berikutnya, hingga warna coklat kekuning-kuningan ( sama dengan warna blanko atau warnaiodium) barulah hidrolisis dihentikan.
Larutan hidrosa didinginkan, kemudian dibagi 2 tabung reaksi yaitu masing-masing diisi dengan 1 mL NaOH 1N (periksa pHnya). Lalu dilakukan uji benedict pada tabung pertama dan uji saliwanos pada tabung ke 2.
3. Sebutkan bahan alam yang mengandung senyawa furfural dan HMF ?
Jawab :
Bahan-bahan alam yang mengandung fulfur dan HMF yaitu, terdiri dari singkong, jagung, ubi, dan lain-lain.
4. Sebutkan masing-masing dua persamaan dan perbedaan antara amilum dan glikogen ?
Jawab :
Persamaan amilum dan glikogen sama-sama memecahkan dan menguraikannya menjadi kecil. Sedangkan perbedaan yaitu glikogen memecahkan glukosa sedangkan amilum memecahkan amylase.
5. Pada percobaan ini, manakah yang menunjukkan hasil negatif terhadap uji benedict ?
Jawab :
Larutan yang menunjukkan hasil negatif yaitu amilum, dekstrin, sukrosa, dan laktosa.
6. Sebutkan jenis uji yang dapat digunakan untuk membuktikan adanya gula reduksi ?
Jawab :
Jenis uji digunakan untuk membuktikan adanya gula reduksi maltosa, galaktosa, fruktosa, glukosa, dan arabinosa.
7. Sebutkan kelebihan menggunakan uji Benedict dibandingkan terhadap uji tersebut ?
Jawab :
Sebab uji benedict mengandung Natrium Karbonat Anhidrat.
8. Pada pemanasan yang lebih lama, disakarida dapat pula memberikan hasil positif terhadap uji Barfoed. Mengapa ?
Jawab :
Karena pada uji Barfoed sudah mengalami peruraian, sehingga warnanya semakin terlihat dengan jelas.
9. Pada pemanasan yang terlalu lama, sukrosa pun menunjukkan hasil positif terhadap uji Seliwanoff. Mengapa ?
Jawab :
Karena dengan melihat warnanya apakah sudah sama dengan warna sebenarnya.
10. Mengapa larutan hasil hidrolisis perlu dinetralkan terlebih dahulu ?
Jawab :
Larutan hasil hidrolisis perlu dinetralkan terlebih dahulu, supaya dapat memperoleh hasil yang sempurna.
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur atas kehadirat ALLAH SWT, atas berkat dan hidayah-Nyalah yang telah diberikan kepada saya. Sehingga laporan lengkap BIOKIMIA ini dapat terselesaikan dengan baik. Saya sadari penulisan laporan ini masih jauh dari yang diharapkan oleh kordinator asisten maupun para asisten pembimbing. Namun kritik dan saran sangat saya perlukan sebagai bantuan untuk kedepannya.
Semoga dengan adanya laporan lengkap ini dapat memberi pengetahuan bagi saya. Mohon maaf apabila ada kata yang tidak sesuai dengan keinginan koordinator asisten dan para asisten pembimbing.
Wassalam
Makassar, 2 Juli 2009
Penyusun
LEMBAR PENGESAHAN
Laporan Lengkap Praktikum BIOKIMIA ini dibuat sebagai salah satu syarat kelulusan Praktikum BIOKIMIA Fakultas Ilmu Kesehatan, Jurusan Keperawatan, Universitas Islam Makassar.
NO JUDUL PERCOBAAN ASISTEN TTD
1 KARBOHIDRAT
2 LIPIDA
3 PROTEIN
4 ENZIM
5 VITAMIN
Makassar, 2 Juli 2009
Koordinator Laboratorium Koordinator Asisten
( ) ( )
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I KARBOHIDRAT
BAB II LIPIDA
BAB III PROTEIN
BAB IV ENZIM
BAB V VITAMIN
LAMPIRAN FOTO
LAMPIRAN SOAL
Langganan:
Postingan (Atom)